HADHARAH ISLAMIYYAH Headline Animator

Friday, June 17, 2011

Racing returns to blood stained Bahrain

· JUNE 7, 2011 ·
bahrain-grand-prix
F1 bloodsport: West backs Bahrain’s ruling family by gifting them the Grand Prix

The recent furore over the re-election of Sepp Blatter as the head of FIFA has shown the importance the world places on sporting events. Hosting a major sporting event is seen as a ticket into an elite club! That is why so many nations put so much money and hope in their attempts to secure major tournaments. The Muslim world is not immune to this kind of hysteria, as was found when Qatar won the bid to host the 2022 Football World cup.

Another Gulf state which feels it has ‘arrived’ is Bahrain which since 2004 has been hosting the Formula One Grand Prix – a ‘sport’ exclusively for the elite and one that perhaps exemplifies western self-indulgent culture more than any. This year’s event was to take place on March 13, however due to the political uprising in Bahrain the race was cancelled.

The government of Bahrain has dealt with the protests with an iron first – arbitrary arrest and bullets have been dealt to those who dare stand up for change. Scores have been killed, doctors treating the injured have been intimidated and people have been left to die in the street. Bahrain has even enlisted the corrupt Saudi Arabian regime to use its British trained troops to crush the protests.

Despite the months of protests and oppression there has been very little Western condemnation of the Bahraini regime. Bahrain, which is the home of the American sixth fleet, is just too important to Western interests to even condemn let alone boycott.

It is under this cloud of continuing uncertainty and protest in the country that the FIA, Formula 1s governing body, has now re-scheduled the Bahraini Grand Prix for 30th October. This has meant pushing the Indian race back into December but it allows Bahrain a green light back into the fold of the so-called ‘civilised’ world. Not everyone in the sport is apparently happy with extending the season into December or the ramifications of being involved in an event that seems to condone the actions of the Bahraini regime.

For the Bahraini government re-scheduling the race portrays a sense of normality and signals to the world that Bahrain is open for business once again. Such a portrayal however false would not be possible without Formula 1, with its western backers, agreeing to return to Bahrain despite the violent way in which the Government has put down the protests. All the political spin about supporting so called ‘pro-democracy’ protests is meaningless when money and political allegiance is put before the lives of those on the streets.

Unsurprisingly the protests have done little to change the attitude of the tyrannical elite in Bahrain. They still see their Mecca as the West paying little attention to the desires of their people for political change. The return of the Grand Prix is seen by the ruling family as justification for their actions, they do not fear Allah (swt) but are contented when their masters in the West can openly do business with them.

Although the FIA appears now to have decided to cancel the re-scheduled race it’s not because of any moral objection at the killing of protesters. The demand to abandon the re-scheduled Bahrain GP is for logistical reasons with many Formula 1 teams selfishly stating in a letter to the FIA that it would be “unbearable to our staff” to extend the racing season.

The attitude of both the West and the ruling family in Bahrain clearly shows that unless there is a true independent leadership making money will always be put above the lives of the innocent.

The only system that will give a voice to the oppressed of Bahrain, Libya or Syria is the Khilafah. Only a leadership that fears Allah (swt) will put the rights of the Muslims above the capitalist needs of the West.

Source: www.hizb.org.uk

0 comments:

THE METHOD TO ESTABLISH KHILAFAH

video

Blog Archive

archives

Bangsa ini Harus Segera Bertobat

Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Pembaca yang budiman, negeri ini seolah menjadi negeri segudang bencana; baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Bencana alam ada yang bersifat alamiah karena faktor alam (seperti gempa, tsunami, dll), tetapi juga ada yang karena faktor manusia (seperti banjir, kerusakan lingkungan, pencemaran karena limbah industri, dll). Adapun bencana kemanusiaan seperti kemiskinan, kelaparan serta terjadinya banyak kasus kriminal (seperti korupsi, suap-menyuap, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, maraknya aborsi, penyalahgunaan narkoba, dll) adalah murni lebih disebabkan karena ulah manusia. Itu belum termasuk kezaliman para penguasa yang dengan semena-mena menerapkan berbagai UU yang justru menyengsarakan rakyat seperti UU Migas, UU SDA, UU Listrik, UU Penanaman Modal, UU BHP, dll. UU tersebut pada kenyataannya lebih untuk memenuhi nafsu segelintir para pemilik modal ketimbang berpihak pada kepentingan rakyat.

Pertanyaannya: Mengapa semua ini terjadi? Bagaimana pula seharusnya bangsa ini bersikap? Apa yang mesti dilakukan? Haruskah kita menyikapi semua ini dengan sikap pasrah dan berdiam diri karena menganggap semua itu sebagai ’takdir’?

Tentu tidak demikian. Pasalnya, harus disadari, bahwa berbagai bencana dan musibah yang selama ini terjadi lebih banyak merupakan akibat kemungkaran dan kemaksiatan yang telah merajalela di negeri ini. Semua itu tidak lain sebagai akibat bangsa ini telah lama mencampakkan syariah Allah dan malah menerapkankan hukum-hukum kufur di negeri ini.

Karena itu, momentum akhir tahun ini tampaknya bisa digunakan oleh seluruh komponen bangsa ini untuk melakukan muhâsabah, koreksi diri, sembari dengan penuh kesadaran dan kesungguhan melakukan upaya untuk mengatasi berbagai persoalan yang melanda negeri ini. Tampaknya bangsa ini harus segera bertobat dengan segera menerapkan hukum-hukum Allah SWT secara total dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Maka dari itu, perjuangan untuk menegakan syariah Islam di negeri ini tidak boleh berhenti, bahkan harus terus ditingkatkan dan dioptimalkan. Sebab, sebagai Muslim kita yakin, bahwa hanya syariah Islamlah—dalam wadah Khilafah—yang bisa memberikan kemaslahatan bagi negeri ini, bahkan bagi seluruh alam raya ini.

Itulah di antara perkara penting yang dipaparkan dalam tema utama al-wa‘ie kali ini, selain sejumlah tema penting lainnya. Selamat membaca!

Wassalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Add This! Blinklist BlueDot Connotea del.icio.us Digg Diigo Facebook FeedMeLinks Google Magnolia Ask.com Yahoo! MyWeb Netvouz Newsvine reddit Simpy SlashDot Spurl StumbleUpon Technorati
Cetak halaman ini Cetak halaman ini      

-->
EDITORIAL
10 Jan 2010

Ketika berbicara di televisi BBC, Perdana Menteri Inggris Gordon Brown menyerukan intervensi lebih besar dari Barat di Yaman dan menyerang tuntutan bagi kekhalifahan dunia di dunia Muslim sebagai sebuah “ideologi pembunuh” dan suatu “penyimpangan dari islam “.
Taji Mustafa, Perwakilan Media Hizbut Tahrir Inggris berkata: “Gordon Brown, seperti halnya Tony Blair yang memerintah sebelumnya, berbohong [...]

Index Editorial
Leaflet
No Image
09 Jan 2010
بِسْـــمِ اللهِ الرَّحْمٰـــنِ الرَّحِيـــم Sia-sia Saja Menggantungkan Harapan Kepada Rencana-rencana Pemerintahan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP)! Pemerintahan Partai Keadilan dan Pembangunan...
Index Leaflet
KALENDER
January 2010
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
  • 1/24/2010: Halqah Islam dan Peradaban edisi 16
POLLING

Islam hanya mengakui pluralitas, bukan pluralisme. Pandangan Anda?

View Results

Loading ... Loading ...
AL-ISLAM
Al-Islam

ACFTA-PASAR BEBAS 2010: “BUNUH DIRI EKONOMI INDONESIA”

Mulai 1 Januari 2010, Indonesia harus membuka pasar dalam negeri secara luas kepada negara-negara ASEAN dan Cina. Sebaliknya, Indonesia dipandang akan mendapatkan kesempatan lebih luas untuk memasuki pasar dalam negeri negara-negara tersebut. Pembukaan pasar ini merupakan perwujudan dari perjanjian perdagangan bebas antara enam negara anggota ASEAN (Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina dan Brunei Darussalam) dengan Cina, [...]

Index Al Islam

EBOOK DOWNLOAD
Ebook Download

Download buku-buku yang dikeluarkan Hizbut Tahrir, dalam bahasa Indonesia, Arab dan Inggris.

Download disini

RSS NEWSLETTER
Powered By Blogger

Followers