ULAMA
Umat yang tidak dibimbing oleh ulama akan menjadi umat yang sesat. Mereka boleh dipengaruhi oleh godaan syaitan yang dapat menjerumus ke lembah kehidupan yang hina. Oleh kerana itu, amat penting kehadiran ulama ditengah-tengah masyarakat. Para ulama adalah pembimbing,menunjuki jalan yang benar dan wakil Allah di muka bumi. Mereka sebagai lampu yang menerangi jalan yang gelap. Ulama adalah lambang iman dan harapan umat yang memberi petunjuk dan menyelamat manusia dari kesesatan dan bencana. Rasulullah SAW bersabda:” Seumpama ulama di bumi adalah seperti bintang-bintang di langit yang memberi petunjuk dalam kegelapan di bumi dan di laut. Apabila dia terbenam jalan akan kabur”. (H.R. Imam Ahmad).
Dalam hadits lain,juga diriwayatkan:”Seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi bahkan ikan-ikan di dalam air semuanya beristighfar untuk para ulama. Sesungguhnya, kedudukan seorang alim sama mulianya dengan bulan ditengah-tengah bintang. Sesungguhnya ulama itu pewaris para nabi”. (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi).
Seorang sahabat pernah bertanya kepada Nabi tentang kelebihan dan kemuliaan seorang alim dibandingkan dengan para ahli ibadah. Maka Nabi SAW bersabda: ”Kelebihan dan kemuliaan seorang alim dibanding dengan seorang ahli ibadah adalah seperti kelebihan kemuliaanku atas orang-orang yang paling bawah di antaramu, Sesungguhnya Allah dan para malaikat dan penghuni langit dan bumi, bahkan semut di dalam lubangnya dan ikan-ikan di dalam lautan, seluruhnya mendoakan kebaikan untuk orang alim yang selalu mengerjakan kebaikan bagi sesama manusia”. (H.R. Tirmidzi).
Hadits menunjukkan betapa tinggi dan mulia kedudukan seorang alim. Ulama yang memahami kedudukan mereka sebagai petunjuk dan pemimpin umat yang berjuang di jalan Allah SWT,berani menyatakan yang haq itu haq dan yang batil itu batil dan senantiasa menasihati para penguasa. Mereka selalu tabah dan sabar dalam menghadapi segala macam tentangan dan halangan demi memperjuangkan kebenaran dan kepentingan umat.
Ulama yang berhati bersih, jujur dan teguh pendirian adalah ulama yang selalu percaya dengan sabda Nabi SAW yang berbunyi: ”Barangsiapa yang melihat Sulthan yang dzalim dengan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan menyalahi Sunnah Rasul-Nya, berbuat kejam dan aniayai terhadap hamba-hamba-Nya dengan sewenang-sewenangnya dan orang itu tidak mencegahnya baik dengan lidah atau dengan perbuatan, maka sepatutnya atas Allah bahawa orang itu menempati tempat yang Allah sudah sediakan baginya”. (H.R. At-Thabrani).
Ulama selalu beramal dengan menegakkan yang wajib dan melarang yang wajib dilarang. Mereka tidak menyembunyikan syari’at yang harus ditegakkan dan mereka percaya firman Allah SWT.:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙأُولَـٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
(Q.S. Al-Baqarah : 159 )
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan itu (yang jelas) dan petunjuk setelah Kami terangkan kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati”. (Q.S. Al-Baqarah : 159).
Dalam surat Ali Imran Allah berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ
(Q.S. Ali Imran : 187 ).
“Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian setia dari orang-orang yang telah diberikan Kitab (iaitu): "Demi sesungguhnya! Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada umat manusia, dan jangan sekali-kali kamu menyembunyikannya".(Q.S. Ali Imran : 187 ).
Rasulullah bersabda:
“Orang yang diam tidak menyatakan yang benar, dia adalah setan yang bisu”.
Khatimah
Ulama memainkan peranan yang besar dalam Islam kerana pengorbanannya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah selaku penyebar dakwah atau ajaran Islam kepada seluruh manusia.
Saturday, November 14, 2009
Friday, September 11, 2009
Oleh KH. M. Shiddiq Al-Jawi Pengantar Gerakan Wahabi (al-harakah al-wahhabiyyah) dapat dianggap salah satu gerakan reformasi Islam yang berpengaruh be
Oleh KH. M. Shiddiq Al-Jawi
Pengantar
Gerakan Wahabi (al-harakah al-wahhabiyyah) dapat dianggap salah satu gerakan reformasi Islam yang berpengaruh besar terhadap umat Islam sejak abad ke-18. (Al-Ja'bari, 1996). Gerakan yang dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792) memang dinilai banyak pakar memberi kontribusi positif bagi umat Islam, misalnya membuka pintu ijtihad, memurnikan tauhid sesuai pahamnya, dan memerangi apa yang dianggapnya bid'ah dan khurafat. Bahkan Wahbah Zuhaili dalam kitabnya Mujaddid Ad-Din fi Al-Qarn Ats-Tsani 'Asyar, menganggap Muhammad bin Abdul Wahhab adalah mujaddid abad ke-12 H. Syekh Abdul Qadim Zallum dalam kitabnya Kaifa Hudimat Al-Khilafah hal. 14, juga mengakui Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang mujtahid dalam mazhab Hambali.
Namun sisi gelap dari gerakan ini juga harus diungkap, khususnya dalam aspek politik. Menurut Abdul Qadim Zallum, gerakan Wahabi telah dimanfaatkan oleh Muhammad bin Saud (w. 1765) untuk memukul Khilafah Utsmaniyah dari dalam. Namun tindakan yang sudah dapat disebut pemberontakan ini, menurut Zallum terjadi tanpa disadari oleh para penganut gerakan Wahabi, meski disadari sepenuhnya oleh Muhammad bin Saud. (Zallum, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 14).
Tulisan ini hendak mengkaji kitab Kaifa Hudimat Al-Khilafah (hal. 13-20) yang mengungkapkan upaya Muhammad bin Saud memanfaatkan gerakan Wahabi untuk mengguncangkan Khilafah Utsmaniyah dari dalam. Kajian akan dilengkapi dengan berbagai referensi lain yang relevan.
Persekongkolan Negara-Negara Eropa
Gerakan Wahabi dan penguasa Saudi muncul pertama kali pada abad ke-18 di tengah kondisi yang kurang menguntungkan bagi Khilafah Utsmaniyah, baik internal maupun eksternal.
Secara internal, kelemahan Khilafah mulai menggejala pada abad ke-18 ini, disebabkan oleh buruknya penerapan hukum Islam, adanya paham-paham asing --seperti nasionalisme dan demokrasi-- yang mengaburkan ajaran Islam dalam benak umat Islam, dan lemahnya pemahaman Islam yang ditandai dengan vakumnya ijtihad. (An-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, hal. 177).
Secara eksternal, negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis, dan Italia telah dan sedang berkonspirasi untuk menghancurkan Khilafah Utsmaniyah. Negara-negara Eropa itu berkali-kali berkumpul dan bersidang membahas apa yang disebutnya Masalah Timur (al-mas'alah al-syarqiyyah, eastern question) dengan tujuan untuk membagi-bagi wilayah Khilafah. Meski tidak berhasil mencapai kata sepakat dalam pembagian ini, namun mereka sepakat bulat dalam satu hal, yaitu Khilafah harus dihancurkan. (El-Ibrahimy, Inggris dalam Pergolakan Timur Tengah, hal. 27).
Agar Khilafah hancur, negara-negara Eropa itu melakukan serangan politik (al-ghazwuz siyasi) dengan menggerogoti wilayah-wilayah Khilafah. Selain Rusia yang yang telah mencaplok wilayah Turkistan tahun 1884 dari wilayah Khilafah, Perancis sebelumnya telah mencaplok Syam (Ghaza, Ramalah, dan Yafa) tahun 1799. Perancis juga telah merampas Al-Jazair tahun 1830, Tunisia tahun 1881, dan Marakesh tahun 1912. Italia tak ketinggalan menduduki Tripoli (Libya) tahun 1911. Sementara Inggris menguasai Mesir tahun 1882 dan Sudan tahun 1898. (An-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, hal. 206-207).
Demikianlah serangan militer telah dilancarkan Eropa untuk menghancurkan Khilafah dengan cara melakukan disintegrasi wilayah-wilayahnya satu demi satu. (Jamal Abdul Hadi Muhammad, Akhtha` Yajibu an Tushahhah fi Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah, Juz II/9).
Selain upaya langsung dari luar, berbagai cara juga ditempuh oleh Eropa untuk menghancurkan Khilafah dari dalam. Menurut Zallum ada empat cara yang digunakan, yaitu : pertama, menghembuskan paham nasionalisme. Kedua, mendorong gerakan separatisme. Ketiga, memprovokasi umat untuk memberontak terhadap Khilafah. Keempat, memberi dukungan senjata dan dana untuk melawan Khilafah. (Zallum, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13; Abdur Rauf Sinnu, An-Naz'at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah, hal. 91).
Di sinilah Inggris menggunakan cara-cara tersebut untuk memukul Khilafah dari dalam, melalui antek-anteknya Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud (w. 1830) yang memanfaatkan gerakan Wahabi. Upaya ini mendapat dukungan dana dan senjata dari Inggris. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13).
Hubungan konspiratif segitiga antara Inggris, Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud, dan gerakan Wahabi ini diuraikan secara detail oleh Abul As'ad dalam kitabnya As-Su'udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun (hal. 15). Menurutnya, Abdul Aziz membangun ambisi politiknya atas dasar dua basis. Pertama, adanya dukungan internasional dari Inggris. Kedua, adanya dukungan milisi bersenjata dari gerakan Wahabi.
Dukungan Inggris terhadap Abdul Aziz ini terbukti misalnya dengan adanya berbagai perjanjian rahasia antara Inggris dan Abdul Aziz tahun 1904. Abul As'ad mengatakan,"Hubungan ini [Inggris dan Abdul Aziz] semakin kuat dengan berbagai perjanjian rahasia antara dua pihak tahun 1904, di mana Abdul Aziz menerima dukungan materi, politik, dan militer dari Inggris yang membantunya untuk meluaskan pengaruhnya di Nejed serta menguasai kota Ihsa` dan Qathif tahun 1913." (Abu Al-As'ad, As-Su'udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun, hal. 16).
Adapun dukungan milisi dari gerakan Wahabi kepada Abdul Aziz, telah terbentuk sebelumnya sejak tahun 1744 ketika terjadi kontrak politik antara ayahnya (Muhammad bin Saud) dengan Muhammad bin Abdul Wahhab. Kontrak politik ini berlangsung di kota Dir'iyyah, sehingga sering disebut "Baiah Dir'iyyah" (Tarikh Al-Fakhiri, tahqiq Abdullah bin Yusuf Asy-Syibl, hal. 25).
Dengan kontrak politik itu, Muhammad bin Saud mendeklarasikan dukungannya terhadap paham gerakan Wahabi dan menerapkannya dalam wilayah kekuasaannya. Sedang gerakan Wahhabi yang sebelumnya hanya gerakan dakwah kelompok, berubah menjadi gerakan dakwah kekuasaan. Implikasinya, paham Wahabi yang semula hanya disebarkan lewat dakwah murni, kemudian disebarkan dengan paksa menggunakan kekuatan pedang kepada penganut mazhab lain, antara lain penganut mazhab Syafi'i. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 16).
Pemberontakan Penguasa Saudi dan Wahabi Terhadap Khilafah
Dengan dukungan dana dan senjata dari Inggris, penguasa Saudi dan kaum Wahabi bahu membahu memerangi dan menduduki negeri-negeri Islam yang berada dalam kekuasaan Khilafah. Dengan ungkapan yang lebih tegas, sebenarnya mereka telah memberontak kepada Khalifah dan memerangi pasukan Amirul Mukminin dengan provokasi dan dukungan dari Inggris, gembongnya kafir penjajah. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13).
Penguasa Saudi dan Wahabi telah menyerang dan menduduki Kuwait tahun 1788, lalu menuju utara hingga mengepung Baghdad, menguasai Karbala dan kuburan Husein di sana untuk menghancurkan kuburan itu dan melarang orang menziarahinya. Pada tahun 1803 mereka menduduki Makkah dan tahun berikutnya (1804) berhasil menduduki Madinah dan merobohkan kubah-kubah besar yang menaungi kuburan Rasulullah SAW. Setelah menguasai Hijaz, mereka menuju ke utara (Syam) dan mendekati Hims. Mereka berhasil menguasai banyak wilayah di Siria hingga Halb (Aleppo). (Muwaffaq Bani Al-Marjih, Shahwah ar-Rajul Al-Maridh, hal. 285).
Menurut Zallum, serangan militer ini sebenarnya adalah aksi imperialis Inggris, karena sudah diketahui bahwa penguasa Saudi adalah antek-anek Inggris. Jadi, Inggris telah memanfatkan penguasa Saudi yang selanjutnya juga memanfaatkan gerakan Wahabi untuk memukul Khilafah dari dalam dan mengobarkan perang saudara antar mazhab dalam tubuh Khilafah.
Hanya saja, seperti telah disebut di depan, para pengikut gerakan Wahabi tidak begitu menyadari kenyataan bahwa penguasa Saudi adalah antek Inggris. Mengapa? Karena menurut Zallum, hubungan yang terjadi bukanlah antara Inggris dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, melainkan antara Inggris dengan Abdul Aziz, lalu antara Inggris dengan anak Abdul Aziz, yaitu Saud bin Abdul Aziz. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 14).
Mungkin karena sebab itulah, banyak para penganut gerakan Wahabi --mereka lebih senang menyebut dirinya Salafi-- menolak anggapan bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab telah memberontak kepada Khilafah Utsmaniyah. Banyak kitab telah ditulis untuk membersihkan nama Muhammad bin Abdul Wahhab dari tuduhan yang menurut mereka tidak benar itu. Contohnya kitab Tashih Khathta` Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah karya Asy-Syuwai'ir; lalu kitab Bara`ah Da`wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab min Tuhmah Al-Khuruj 'Ala Ad-Daulah Al-Utsmaniyah karya Al-Gharib, juga kitab Kasyfu Al-Akadzib wa al-Syubuhat 'an Da'wah Al-Mushlih Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab karya Shalahudin Al Syaikh. Termasuk juga kitab yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yang berjudul Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah karya Ash-Shalabi. (Pustaka Al-Kautsar, 2004).
Bahkan dalam buku yang terakhir ini, Ash-Shalabi mencoba membangun konstruksi persepsi sejarah yang justru mengaburkan fakta sejarah yang sesungguhnya. Ash-Shalabi mengatakan bahwa perang antara Khilafah (yang diwakili oleh Muhammad Ali, yakni Wali Mesir) melawan gerakan Wahabi pertengahan abad ke-19, adalah Perang Salib yang berbaju Islam. (Ash-Shalabi, Ad-Daulah Al-Utsmaniyah Awamil An-Nuhudh wa Asbab As-Suquth, hal. 623).
Maksudnya, Muhammad Ali dianggap representasi pihak Salib karena dia dianggap antek Inggris dan Perancis, sementara gerakan Wahabi dianggap representasi tentara Islam. Subhanallah, hadza buhtanun 'azhim.
Padahal, Muhammad Ali meski benar dia adalah antek Perancis menurut Zallum tapi dia memerangi Wahabi karena menjalankan perintah Khalifah, bukan menjalankan perintah kaum Salib. Jadi, perang yang terjadi sebenarnya adalah perang antara Khilafah dan kaum pemberontak yang didukung Inggris, bukan antara kaum Salib melawan pasukan Islam.
Ada satu fakta sejarah yang diabaikan oleh para penulis sejarah apologetik itu, yang mencoba membela posisi Wahabi atau penguasa Saudi yang memberontak kepada Khilafah. Mereka nampaknya lupa bahwa wilayah Hijaz telah lama masuk ke dalam wilayah Khilafah Utsmaniyah. Sejak tahun 1517 M, Hijaz telah secara resmi menjadi bagian Khilafah pada masa Khalifah Salim I yang berkuasa 1512-1520. Peristiwa ini ditandai dengan pernyerahan kunci Makkah dan Madinah kepada penguasa Khilafah Utsmaniyah. (Abdur Rauf Sinnu, An-Naz'at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah, hal. 89; Tarikh Ibnu Yusuf, hal. 16; Abdul Halim Uwais, Dirasah li Suquth Tsalatsina Daulah Islamiyyah, hal. 88).
Jadi, kalau Hijaz adalah bagian Khilafah, maka upaya mendirikan kekuasaan dalam tubuh Khilafah, seperti yang dilakukan penguasa Saudi dan Wahabi, tak lain adalah upaya ilegal untuk membangun negara di dalam negara. Lalu kalau mereka berperang melawan Khalifah, apa namanya kalau bukan pemberontakan?
Para penulis sejarah apologetik itu semestinya bersikap objektif dan adil, tidak secara apriori berpihak kepada penguasa Saudi atau gerakan Wahabi. Atau secara apriori membenci Khilafah atau aktivis pejuang Khilafah saat ini. Allah SWT berfirman (artinya) : "Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS Al-Maaidah : 8).
Namun nampaknya justru bersikap adil sepertilah yang paling sulit dilakukan oleh sejarawan, sejarawan manapun, khususnya penulis sejarah sezaman (l'histoire contemporaine, contemporary history). Dalam ilmu sejarah, menulis sejarah sezaman ini adalah paling sulit bagi ahli sejarah untuk tidak memihak (non partisan). Namun meski sulit, sejarawan seharusnya menulis secara obyektif, sekalipun menulis tentang penguasa yang sedang berkuasa. (Poeradisastra, 2008). Wallahu a'lam.
DAFTAR BACAAN
Aal Syaikh, Shalahudin bin Muhammad bin Abdurrahman, Kasyfu Al-Akadzib wa al-Syubuhat 'an Da'wah Al-Mushlih Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, (ttp : tp), tt.
Abu Al-As'ad, Muhammad, As-Su'udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun, (Kairo : Markaz Ad-Dirasat wa Al-Ma'lumat al-Qanuniyah li Huquq al-Insan), 1996.
Al-Fakhiri, Tarikh Al-Fakhiri, tahqiq Abdullah bin Yusuf Asy-Syibl, (Riyadh : Maktabah Al-Malik Fahd), 1999.
Al-Gharib, Abdul Basith bin Yusuf, Bara`ah Da`wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, (Amman : tp), tt.
Al-Ja'bari, Hafizh Muhammad, Gerakan Kebangkitan Islam (Harakah Al-Ba'ts Al-Islami), Penerjemah Abu Ayyub Al-Anshari, (Solo : Duta Rohmah), 1996.
Al-Marjih, Muwaffaq Bani, Shahwah ar-Rajul Al-Maridh, (Kuwait : Muasasah Shaqr Al-Khalij), 1984.
An-Nabhani, Taqiyuddin, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, (Beirut : Darul Ummah), 2002.
Ash-Shallabi, Ali Muhammad, Ad-Daulah al-Utsmaniyah 'Awamil an-Nuhudh wa Asbab as-Suquth, (ttp : tp), tt.
Asy-Syuwai'ir, Muhammad Saad, Tashih Khathta` Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, (Ttp : Darul Habib), 2000.
El-Ibrahimy, M. Nur, Inggris dalam Pergolakan Timur Tengah, (Bandung : NV Almaarif), 1955.
Ibnu Yusuf, Tarikh Ibnu Yusuf, tahqiq Uwaidhah Al-Juhni, (Riyadh : Maktabah Al-Malik Fahd), 1999.
Imam, Hammadah, Daur Al-Usrah As-Su'udiyah fi Iqamah Ad-Daulah Al-Israiliyyah, (ttp : tp), 1997.
Muhammad, Jamal Abdul Hadi, Akhtha` Yajibu an Tushahhah fi Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah, Juz II, (Al-Manshurah : Darul Wafa`), 1995.
Poeradisastra, S.I., Sumbangan Islam Kepada Ilmu dan Peradaban Modern, (Depok : Komunitas Bambu), 2008.
Sinnu, Abdur Rauf, An-Naz'at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah 1877-1881, (Beirut : Baisan), 1998.
Uwais, Abdul Halim, Dirasah li Suquth Tsalatsina Daulah Islamiyyah, (ttp : tp), tt.
Yaghi, Ismail Ahmad, Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah fi At-Tarikh Al-Islami al-Hadits, (Ttp : Maktabah Al-'Abikan), 1998.
Zallum, Abdul Qadim, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, (Beirut : Darul Ummah), 1990.
Pengantar
Gerakan Wahabi (al-harakah al-wahhabiyyah) dapat dianggap salah satu gerakan reformasi Islam yang berpengaruh besar terhadap umat Islam sejak abad ke-18. (Al-Ja'bari, 1996). Gerakan yang dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792) memang dinilai banyak pakar memberi kontribusi positif bagi umat Islam, misalnya membuka pintu ijtihad, memurnikan tauhid sesuai pahamnya, dan memerangi apa yang dianggapnya bid'ah dan khurafat. Bahkan Wahbah Zuhaili dalam kitabnya Mujaddid Ad-Din fi Al-Qarn Ats-Tsani 'Asyar, menganggap Muhammad bin Abdul Wahhab adalah mujaddid abad ke-12 H. Syekh Abdul Qadim Zallum dalam kitabnya Kaifa Hudimat Al-Khilafah hal. 14, juga mengakui Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang mujtahid dalam mazhab Hambali.
Namun sisi gelap dari gerakan ini juga harus diungkap, khususnya dalam aspek politik. Menurut Abdul Qadim Zallum, gerakan Wahabi telah dimanfaatkan oleh Muhammad bin Saud (w. 1765) untuk memukul Khilafah Utsmaniyah dari dalam. Namun tindakan yang sudah dapat disebut pemberontakan ini, menurut Zallum terjadi tanpa disadari oleh para penganut gerakan Wahabi, meski disadari sepenuhnya oleh Muhammad bin Saud. (Zallum, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 14).
Tulisan ini hendak mengkaji kitab Kaifa Hudimat Al-Khilafah (hal. 13-20) yang mengungkapkan upaya Muhammad bin Saud memanfaatkan gerakan Wahabi untuk mengguncangkan Khilafah Utsmaniyah dari dalam. Kajian akan dilengkapi dengan berbagai referensi lain yang relevan.
Persekongkolan Negara-Negara Eropa
Gerakan Wahabi dan penguasa Saudi muncul pertama kali pada abad ke-18 di tengah kondisi yang kurang menguntungkan bagi Khilafah Utsmaniyah, baik internal maupun eksternal.
Secara internal, kelemahan Khilafah mulai menggejala pada abad ke-18 ini, disebabkan oleh buruknya penerapan hukum Islam, adanya paham-paham asing --seperti nasionalisme dan demokrasi-- yang mengaburkan ajaran Islam dalam benak umat Islam, dan lemahnya pemahaman Islam yang ditandai dengan vakumnya ijtihad. (An-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, hal. 177).
Secara eksternal, negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis, dan Italia telah dan sedang berkonspirasi untuk menghancurkan Khilafah Utsmaniyah. Negara-negara Eropa itu berkali-kali berkumpul dan bersidang membahas apa yang disebutnya Masalah Timur (al-mas'alah al-syarqiyyah, eastern question) dengan tujuan untuk membagi-bagi wilayah Khilafah. Meski tidak berhasil mencapai kata sepakat dalam pembagian ini, namun mereka sepakat bulat dalam satu hal, yaitu Khilafah harus dihancurkan. (El-Ibrahimy, Inggris dalam Pergolakan Timur Tengah, hal. 27).
Agar Khilafah hancur, negara-negara Eropa itu melakukan serangan politik (al-ghazwuz siyasi) dengan menggerogoti wilayah-wilayah Khilafah. Selain Rusia yang yang telah mencaplok wilayah Turkistan tahun 1884 dari wilayah Khilafah, Perancis sebelumnya telah mencaplok Syam (Ghaza, Ramalah, dan Yafa) tahun 1799. Perancis juga telah merampas Al-Jazair tahun 1830, Tunisia tahun 1881, dan Marakesh tahun 1912. Italia tak ketinggalan menduduki Tripoli (Libya) tahun 1911. Sementara Inggris menguasai Mesir tahun 1882 dan Sudan tahun 1898. (An-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, hal. 206-207).
Demikianlah serangan militer telah dilancarkan Eropa untuk menghancurkan Khilafah dengan cara melakukan disintegrasi wilayah-wilayahnya satu demi satu. (Jamal Abdul Hadi Muhammad, Akhtha` Yajibu an Tushahhah fi Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah, Juz II/9).
Selain upaya langsung dari luar, berbagai cara juga ditempuh oleh Eropa untuk menghancurkan Khilafah dari dalam. Menurut Zallum ada empat cara yang digunakan, yaitu : pertama, menghembuskan paham nasionalisme. Kedua, mendorong gerakan separatisme. Ketiga, memprovokasi umat untuk memberontak terhadap Khilafah. Keempat, memberi dukungan senjata dan dana untuk melawan Khilafah. (Zallum, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13; Abdur Rauf Sinnu, An-Naz'at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah, hal. 91).
Di sinilah Inggris menggunakan cara-cara tersebut untuk memukul Khilafah dari dalam, melalui antek-anteknya Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud (w. 1830) yang memanfaatkan gerakan Wahabi. Upaya ini mendapat dukungan dana dan senjata dari Inggris. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13).
Hubungan konspiratif segitiga antara Inggris, Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud, dan gerakan Wahabi ini diuraikan secara detail oleh Abul As'ad dalam kitabnya As-Su'udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun (hal. 15). Menurutnya, Abdul Aziz membangun ambisi politiknya atas dasar dua basis. Pertama, adanya dukungan internasional dari Inggris. Kedua, adanya dukungan milisi bersenjata dari gerakan Wahabi.
Dukungan Inggris terhadap Abdul Aziz ini terbukti misalnya dengan adanya berbagai perjanjian rahasia antara Inggris dan Abdul Aziz tahun 1904. Abul As'ad mengatakan,"Hubungan ini [Inggris dan Abdul Aziz] semakin kuat dengan berbagai perjanjian rahasia antara dua pihak tahun 1904, di mana Abdul Aziz menerima dukungan materi, politik, dan militer dari Inggris yang membantunya untuk meluaskan pengaruhnya di Nejed serta menguasai kota Ihsa` dan Qathif tahun 1913." (Abu Al-As'ad, As-Su'udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun, hal. 16).
Adapun dukungan milisi dari gerakan Wahabi kepada Abdul Aziz, telah terbentuk sebelumnya sejak tahun 1744 ketika terjadi kontrak politik antara ayahnya (Muhammad bin Saud) dengan Muhammad bin Abdul Wahhab. Kontrak politik ini berlangsung di kota Dir'iyyah, sehingga sering disebut "Baiah Dir'iyyah" (Tarikh Al-Fakhiri, tahqiq Abdullah bin Yusuf Asy-Syibl, hal. 25).
Dengan kontrak politik itu, Muhammad bin Saud mendeklarasikan dukungannya terhadap paham gerakan Wahabi dan menerapkannya dalam wilayah kekuasaannya. Sedang gerakan Wahhabi yang sebelumnya hanya gerakan dakwah kelompok, berubah menjadi gerakan dakwah kekuasaan. Implikasinya, paham Wahabi yang semula hanya disebarkan lewat dakwah murni, kemudian disebarkan dengan paksa menggunakan kekuatan pedang kepada penganut mazhab lain, antara lain penganut mazhab Syafi'i. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 16).
Pemberontakan Penguasa Saudi dan Wahabi Terhadap Khilafah
Dengan dukungan dana dan senjata dari Inggris, penguasa Saudi dan kaum Wahabi bahu membahu memerangi dan menduduki negeri-negeri Islam yang berada dalam kekuasaan Khilafah. Dengan ungkapan yang lebih tegas, sebenarnya mereka telah memberontak kepada Khalifah dan memerangi pasukan Amirul Mukminin dengan provokasi dan dukungan dari Inggris, gembongnya kafir penjajah. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13).
Penguasa Saudi dan Wahabi telah menyerang dan menduduki Kuwait tahun 1788, lalu menuju utara hingga mengepung Baghdad, menguasai Karbala dan kuburan Husein di sana untuk menghancurkan kuburan itu dan melarang orang menziarahinya. Pada tahun 1803 mereka menduduki Makkah dan tahun berikutnya (1804) berhasil menduduki Madinah dan merobohkan kubah-kubah besar yang menaungi kuburan Rasulullah SAW. Setelah menguasai Hijaz, mereka menuju ke utara (Syam) dan mendekati Hims. Mereka berhasil menguasai banyak wilayah di Siria hingga Halb (Aleppo). (Muwaffaq Bani Al-Marjih, Shahwah ar-Rajul Al-Maridh, hal. 285).
Menurut Zallum, serangan militer ini sebenarnya adalah aksi imperialis Inggris, karena sudah diketahui bahwa penguasa Saudi adalah antek-anek Inggris. Jadi, Inggris telah memanfatkan penguasa Saudi yang selanjutnya juga memanfaatkan gerakan Wahabi untuk memukul Khilafah dari dalam dan mengobarkan perang saudara antar mazhab dalam tubuh Khilafah.
Hanya saja, seperti telah disebut di depan, para pengikut gerakan Wahabi tidak begitu menyadari kenyataan bahwa penguasa Saudi adalah antek Inggris. Mengapa? Karena menurut Zallum, hubungan yang terjadi bukanlah antara Inggris dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, melainkan antara Inggris dengan Abdul Aziz, lalu antara Inggris dengan anak Abdul Aziz, yaitu Saud bin Abdul Aziz. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 14).
Mungkin karena sebab itulah, banyak para penganut gerakan Wahabi --mereka lebih senang menyebut dirinya Salafi-- menolak anggapan bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab telah memberontak kepada Khilafah Utsmaniyah. Banyak kitab telah ditulis untuk membersihkan nama Muhammad bin Abdul Wahhab dari tuduhan yang menurut mereka tidak benar itu. Contohnya kitab Tashih Khathta` Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah karya Asy-Syuwai'ir; lalu kitab Bara`ah Da`wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab min Tuhmah Al-Khuruj 'Ala Ad-Daulah Al-Utsmaniyah karya Al-Gharib, juga kitab Kasyfu Al-Akadzib wa al-Syubuhat 'an Da'wah Al-Mushlih Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab karya Shalahudin Al Syaikh. Termasuk juga kitab yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yang berjudul Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah karya Ash-Shalabi. (Pustaka Al-Kautsar, 2004).
Bahkan dalam buku yang terakhir ini, Ash-Shalabi mencoba membangun konstruksi persepsi sejarah yang justru mengaburkan fakta sejarah yang sesungguhnya. Ash-Shalabi mengatakan bahwa perang antara Khilafah (yang diwakili oleh Muhammad Ali, yakni Wali Mesir) melawan gerakan Wahabi pertengahan abad ke-19, adalah Perang Salib yang berbaju Islam. (Ash-Shalabi, Ad-Daulah Al-Utsmaniyah Awamil An-Nuhudh wa Asbab As-Suquth, hal. 623).
Maksudnya, Muhammad Ali dianggap representasi pihak Salib karena dia dianggap antek Inggris dan Perancis, sementara gerakan Wahabi dianggap representasi tentara Islam. Subhanallah, hadza buhtanun 'azhim.
Padahal, Muhammad Ali meski benar dia adalah antek Perancis menurut Zallum tapi dia memerangi Wahabi karena menjalankan perintah Khalifah, bukan menjalankan perintah kaum Salib. Jadi, perang yang terjadi sebenarnya adalah perang antara Khilafah dan kaum pemberontak yang didukung Inggris, bukan antara kaum Salib melawan pasukan Islam.
Ada satu fakta sejarah yang diabaikan oleh para penulis sejarah apologetik itu, yang mencoba membela posisi Wahabi atau penguasa Saudi yang memberontak kepada Khilafah. Mereka nampaknya lupa bahwa wilayah Hijaz telah lama masuk ke dalam wilayah Khilafah Utsmaniyah. Sejak tahun 1517 M, Hijaz telah secara resmi menjadi bagian Khilafah pada masa Khalifah Salim I yang berkuasa 1512-1520. Peristiwa ini ditandai dengan pernyerahan kunci Makkah dan Madinah kepada penguasa Khilafah Utsmaniyah. (Abdur Rauf Sinnu, An-Naz'at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah, hal. 89; Tarikh Ibnu Yusuf, hal. 16; Abdul Halim Uwais, Dirasah li Suquth Tsalatsina Daulah Islamiyyah, hal. 88).
Jadi, kalau Hijaz adalah bagian Khilafah, maka upaya mendirikan kekuasaan dalam tubuh Khilafah, seperti yang dilakukan penguasa Saudi dan Wahabi, tak lain adalah upaya ilegal untuk membangun negara di dalam negara. Lalu kalau mereka berperang melawan Khalifah, apa namanya kalau bukan pemberontakan?
Para penulis sejarah apologetik itu semestinya bersikap objektif dan adil, tidak secara apriori berpihak kepada penguasa Saudi atau gerakan Wahabi. Atau secara apriori membenci Khilafah atau aktivis pejuang Khilafah saat ini. Allah SWT berfirman (artinya) : "Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS Al-Maaidah : 8).
Namun nampaknya justru bersikap adil sepertilah yang paling sulit dilakukan oleh sejarawan, sejarawan manapun, khususnya penulis sejarah sezaman (l'histoire contemporaine, contemporary history). Dalam ilmu sejarah, menulis sejarah sezaman ini adalah paling sulit bagi ahli sejarah untuk tidak memihak (non partisan). Namun meski sulit, sejarawan seharusnya menulis secara obyektif, sekalipun menulis tentang penguasa yang sedang berkuasa. (Poeradisastra, 2008). Wallahu a'lam.
DAFTAR BACAAN
Aal Syaikh, Shalahudin bin Muhammad bin Abdurrahman, Kasyfu Al-Akadzib wa al-Syubuhat 'an Da'wah Al-Mushlih Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, (ttp : tp), tt.
Abu Al-As'ad, Muhammad, As-Su'udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun, (Kairo : Markaz Ad-Dirasat wa Al-Ma'lumat al-Qanuniyah li Huquq al-Insan), 1996.
Al-Fakhiri, Tarikh Al-Fakhiri, tahqiq Abdullah bin Yusuf Asy-Syibl, (Riyadh : Maktabah Al-Malik Fahd), 1999.
Al-Gharib, Abdul Basith bin Yusuf, Bara`ah Da`wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, (Amman : tp), tt.
Al-Ja'bari, Hafizh Muhammad, Gerakan Kebangkitan Islam (Harakah Al-Ba'ts Al-Islami), Penerjemah Abu Ayyub Al-Anshari, (Solo : Duta Rohmah), 1996.
Al-Marjih, Muwaffaq Bani, Shahwah ar-Rajul Al-Maridh, (Kuwait : Muasasah Shaqr Al-Khalij), 1984.
An-Nabhani, Taqiyuddin, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, (Beirut : Darul Ummah), 2002.
Ash-Shallabi, Ali Muhammad, Ad-Daulah al-Utsmaniyah 'Awamil an-Nuhudh wa Asbab as-Suquth, (ttp : tp), tt.
Asy-Syuwai'ir, Muhammad Saad, Tashih Khathta` Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, (Ttp : Darul Habib), 2000.
El-Ibrahimy, M. Nur, Inggris dalam Pergolakan Timur Tengah, (Bandung : NV Almaarif), 1955.
Ibnu Yusuf, Tarikh Ibnu Yusuf, tahqiq Uwaidhah Al-Juhni, (Riyadh : Maktabah Al-Malik Fahd), 1999.
Imam, Hammadah, Daur Al-Usrah As-Su'udiyah fi Iqamah Ad-Daulah Al-Israiliyyah, (ttp : tp), 1997.
Muhammad, Jamal Abdul Hadi, Akhtha` Yajibu an Tushahhah fi Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah, Juz II, (Al-Manshurah : Darul Wafa`), 1995.
Poeradisastra, S.I., Sumbangan Islam Kepada Ilmu dan Peradaban Modern, (Depok : Komunitas Bambu), 2008.
Sinnu, Abdur Rauf, An-Naz'at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah 1877-1881, (Beirut : Baisan), 1998.
Uwais, Abdul Halim, Dirasah li Suquth Tsalatsina Daulah Islamiyyah, (ttp : tp), tt.
Yaghi, Ismail Ahmad, Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah fi At-Tarikh Al-Islami al-Hadits, (Ttp : Maktabah Al-'Abikan), 1998.
Zallum, Abdul Qadim, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, (Beirut : Darul Ummah), 1990.
Saturday, February 7, 2009
Egypt blocks money into devastated Gaza
Sat, 07 Feb 2009 01:11:08 GMT
presstv
Egypt strictly controls Rafah, preventing anything including basic supplies into Gaza.
Egypt says it has stopped a senior Hamas official from carrying near USD 12m in cash through the Rafah crossing into Gaza.
Border officials had held up a six-member delegation returning from truce talks in Cairo after insisting on searching their bags, AFP reported.
The officials allowed five members to cross, but prevented Gaza-based Hamas spokesman Ayman Taha, who was carrying the cash, from entering Gaza with the money.
He was allowed back into Gaza late Thursday after Egyptian authorities insisted he put the money in a bank in the north Sinai town of Arish, al-Arabiya news channel reported.
Asked by al-Arabiya about the source of the money, Taha said: "This is not the question we should ask. We should rather ask how much longer we will be carrying money in bags."
Gaza has a severe shortage of cash caused by the Israeli blockade and other sanctions by the Egyptian regime.
"I was just carrying the money for the Palestinian people who suffered from the war and the siege," Taha said.
Israel's air and ground offensive in the Gaza Strip has destroyed the tiny enclave's infrastructure and killed 1,330 Palestinians. 5,450 more were injured while 14,000 homes and 68 government buildings were damaged.
On Thursday, Israel gave a go-ahead for a cash delivery into the Gaza Strip for the first time since its recent military offensive against Gaza, Israeli media reports said.
The reports said USD 42m would be transferred from the West Bank to banks in the Gaza Strip in order to pay around 70,000 employees of the Palestinian Authority of President Mahmoud Abbas.
In December 2006, Hamas Prime Minister Ismail Haniya was forced to leave USD 35m on the Egyptian side of Rafah. The money was then transferred to a Palestinian Authority account of Mahmoud Abbas.
Egypt's President Hosni Mubarak (R), along with Israeli Prime Minister Ehud Olmert. Mubarak has been holding office for 28 years.
In another development, Egypt closed the Rafah crossing to all but what it called exceptional cases on Thursday.
"No humanitarian, media or medical delegations will be allowed through, nor will medical aid deliveries be permitted," an Egyptian border official had told AFP.
Egypt refuses to permanently open the crossing in the absence of EU monitors and representatives of Palestinian president Mahmoud Abbas.
Egyptian President Hosni Mubarak who has been in office for 28 years, has blamed Hamas for the massacre of hundreds of Palestinians in the Gaza war, saying the democratically-elected rulers of the coastal territory must be held responsible for the Israeli operations.
MMA/HAR
Egypt strictly controls Rafah, preventing anything including basic supplies into Gaza.
Egypt says it has stopped a senior Hamas official from carrying near USD 12m in cash through the Rafah crossing into Gaza.
Border officials had held up a six-member delegation returning from truce talks in Cairo after insisting on searching their bags, AFP reported.
The officials allowed five members to cross, but prevented Gaza-based Hamas spokesman Ayman Taha, who was carrying the cash, from entering Gaza with the money.
He was allowed back into Gaza late Thursday after Egyptian authorities insisted he put the money in a bank in the north Sinai town of Arish, al-Arabiya news channel reported.
Asked by al-Arabiya about the source of the money, Taha said: "This is not the question we should ask. We should rather ask how much longer we will be carrying money in bags."
Gaza has a severe shortage of cash caused by the Israeli blockade and other sanctions by the Egyptian regime.
"I was just carrying the money for the Palestinian people who suffered from the war and the siege," Taha said.
Israel's air and ground offensive in the Gaza Strip has destroyed the tiny enclave's infrastructure and killed 1,330 Palestinians. 5,450 more were injured while 14,000 homes and 68 government buildings were damaged.
On Thursday, Israel gave a go-ahead for a cash delivery into the Gaza Strip for the first time since its recent military offensive against Gaza, Israeli media reports said.
The reports said USD 42m would be transferred from the West Bank to banks in the Gaza Strip in order to pay around 70,000 employees of the Palestinian Authority of President Mahmoud Abbas.
In December 2006, Hamas Prime Minister Ismail Haniya was forced to leave USD 35m on the Egyptian side of Rafah. The money was then transferred to a Palestinian Authority account of Mahmoud Abbas.
Egypt's President Hosni Mubarak (R), along with Israeli Prime Minister Ehud Olmert. Mubarak has been holding office for 28 years.
In another development, Egypt closed the Rafah crossing to all but what it called exceptional cases on Thursday.
"No humanitarian, media or medical delegations will be allowed through, nor will medical aid deliveries be permitted," an Egyptian border official had told AFP.
Egypt refuses to permanently open the crossing in the absence of EU monitors and representatives of Palestinian president Mahmoud Abbas.
Egyptian President Hosni Mubarak who has been in office for 28 years, has blamed Hamas for the massacre of hundreds of Palestinians in the Gaza war, saying the democratically-elected rulers of the coastal territory must be held responsible for the Israeli operations.
MMA/HAR
http://www.presstv.ir/default.aspx
Sat, 07 Feb 2009 01:11:08 GMT
presstv
Egypt strictly controls Rafah, preventing anything including basic supplies into Gaza.
Egypt says it has stopped a senior Hamas official from carrying near USD 12m in cash through the Rafah crossing into Gaza.
Border officials had held up a six-member delegation returning from truce talks in Cairo after insisting on searching their bags, AFP reported.
The officials allowed five members to cross, but prevented Gaza-based Hamas spokesman Ayman Taha, who was carrying the cash, from entering Gaza with the money.
He was allowed back into Gaza late Thursday after Egyptian authorities insisted he put the money in a bank in the north Sinai town of Arish, al-Arabiya news channel reported.
Asked by al-Arabiya about the source of the money, Taha said: "This is not the question we should ask. We should rather ask how much longer we will be carrying money in bags."
Gaza has a severe shortage of cash caused by the Israeli blockade and other sanctions by the Egyptian regime.
"I was just carrying the money for the Palestinian people who suffered from the war and the siege," Taha said.
Israel's air and ground offensive in the Gaza Strip has destroyed the tiny enclave's infrastructure and killed 1,330 Palestinians. 5,450 more were injured while 14,000 homes and 68 government buildings were damaged.
On Thursday, Israel gave a go-ahead for a cash delivery into the Gaza Strip for the first time since its recent military offensive against Gaza, Israeli media reports said.
The reports said USD 42m would be transferred from the West Bank to banks in the Gaza Strip in order to pay around 70,000 employees of the Palestinian Authority of President Mahmoud Abbas.
In December 2006, Hamas Prime Minister Ismail Haniya was forced to leave USD 35m on the Egyptian side of Rafah. The money was then transferred to a Palestinian Authority account of Mahmoud Abbas.
Egypt's President Hosni Mubarak (R), along with Israeli Prime Minister Ehud Olmert. Mubarak has been holding office for 28 years.
In another development, Egypt closed the Rafah crossing to all but what it called exceptional cases on Thursday.
"No humanitarian, media or medical delegations will be allowed through, nor will medical aid deliveries be permitted," an Egyptian border official had told AFP.
Egypt refuses to permanently open the crossing in the absence of EU monitors and representatives of Palestinian president Mahmoud Abbas.
Egyptian President Hosni Mubarak who has been in office for 28 years, has blamed Hamas for the massacre of hundreds of Palestinians in the Gaza war, saying the democratically-elected rulers of the coastal territory must be held responsible for the Israeli operations.
MMA/HAR
Egypt strictly controls Rafah, preventing anything including basic supplies into Gaza.
Egypt says it has stopped a senior Hamas official from carrying near USD 12m in cash through the Rafah crossing into Gaza.
Border officials had held up a six-member delegation returning from truce talks in Cairo after insisting on searching their bags, AFP reported.
The officials allowed five members to cross, but prevented Gaza-based Hamas spokesman Ayman Taha, who was carrying the cash, from entering Gaza with the money.
He was allowed back into Gaza late Thursday after Egyptian authorities insisted he put the money in a bank in the north Sinai town of Arish, al-Arabiya news channel reported.
Asked by al-Arabiya about the source of the money, Taha said: "This is not the question we should ask. We should rather ask how much longer we will be carrying money in bags."
Gaza has a severe shortage of cash caused by the Israeli blockade and other sanctions by the Egyptian regime.
"I was just carrying the money for the Palestinian people who suffered from the war and the siege," Taha said.
Israel's air and ground offensive in the Gaza Strip has destroyed the tiny enclave's infrastructure and killed 1,330 Palestinians. 5,450 more were injured while 14,000 homes and 68 government buildings were damaged.
On Thursday, Israel gave a go-ahead for a cash delivery into the Gaza Strip for the first time since its recent military offensive against Gaza, Israeli media reports said.
The reports said USD 42m would be transferred from the West Bank to banks in the Gaza Strip in order to pay around 70,000 employees of the Palestinian Authority of President Mahmoud Abbas.
In December 2006, Hamas Prime Minister Ismail Haniya was forced to leave USD 35m on the Egyptian side of Rafah. The money was then transferred to a Palestinian Authority account of Mahmoud Abbas.
Egypt's President Hosni Mubarak (R), along with Israeli Prime Minister Ehud Olmert. Mubarak has been holding office for 28 years.
In another development, Egypt closed the Rafah crossing to all but what it called exceptional cases on Thursday.
"No humanitarian, media or medical delegations will be allowed through, nor will medical aid deliveries be permitted," an Egyptian border official had told AFP.
Egypt refuses to permanently open the crossing in the absence of EU monitors and representatives of Palestinian president Mahmoud Abbas.
Egyptian President Hosni Mubarak who has been in office for 28 years, has blamed Hamas for the massacre of hundreds of Palestinians in the Gaza war, saying the democratically-elected rulers of the coastal territory must be held responsible for the Israeli operations.
MMA/HAR
http://www.presstv.ir/default.aspx
Thursday, January 29, 2009

Peta Tanah Milik Kaum Muslim, Palestina Dirampas Israel
Friday, 16 January 2009 20:03
Syabab.Com - Palestina merupakan tanah milik kaum Muslim yang telah dibebaskan sejak dulu oleh Umar al-Faruq. Setelah Barat lama menyerang Khilafah hingga akhirnya runtuh, pihak penjajah menjanjikan tanah bagi Israel. Pada tahun 1947, melalui bantuan PBB tanah Palestina dirampas Israel. Perampasan itu terus dilakukan hingga hari ini. Pengusiran, perampasan tanah, hingga pembunuhan dilakukan oleh penjajah Israel itu. Berikut gambaran peta wilayah negeri Islam Palestina, tanah milik kaum Muslim yang diberkahi itu terus digerogoti penjajah Israel. Di manakah para pembebas Al-Faruq itu kini?
SUMBER: SYABAB.COM
Peta Tanah Milik Kaum Muslim, Palestina Dirampas Israel
Friday, 16 January 2009 20:03
Syabab.Com - Palestina merupakan tanah milik kaum Muslim yang telah dibebaskan sejak dulu oleh Umar al-Faruq. Setelah Barat lama menyerang Khilafah hingga akhirnya runtuh, pihak penjajah menjanjikan tanah bagi Israel. Pada tahun 1947, melalui bantuan PBB tanah Palestina dirampas Israel. Perampasan itu terus dilakukan hingga hari ini. Pengusiran, perampasan tanah, hingga pembunuhan dilakukan oleh penjajah Israel itu. Berikut gambaran peta wilayah negeri Islam Palestina, tanah milik kaum Muslim yang diberkahi itu terus digerogoti penjajah Israel. Di manakah para pembebas Al-Faruq itu kini?
Friday, 16 January 2009 20:03
Syabab.Com - Palestina merupakan tanah milik kaum Muslim yang telah dibebaskan sejak dulu oleh Umar al-Faruq. Setelah Barat lama menyerang Khilafah hingga akhirnya runtuh, pihak penjajah menjanjikan tanah bagi Israel. Pada tahun 1947, melalui bantuan PBB tanah Palestina dirampas Israel. Perampasan itu terus dilakukan hingga hari ini. Pengusiran, perampasan tanah, hingga pembunuhan dilakukan oleh penjajah Israel itu. Berikut gambaran peta wilayah negeri Islam Palestina, tanah milik kaum Muslim yang diberkahi itu terus digerogoti penjajah Israel. Di manakah para pembebas Al-Faruq itu kini?
Sunday, January 25, 2009
Warkah dari Ummu Taqi di Gaza
Warkah dari Ummu Taqi di Gaza PDF Print E-mail
Written by Muslimah
Friday, 23 January 2009 13:56
Menemui saudara dan saudari seIslamku, aku ingin mengambil kesempatan ini untuk menyampaikan pesanan dari saudara-saudari seagamamu di Gaza. Dengarkanlah bagaimana keadaan kami di sini dan beritahukan kepada semua orang samada mereka yang kamu kenali mahupun tidak.
Pada tanggal 27hb Disember 2008, ketika kami di serang rejim Zionis, mereka bukan sahaja menyerang puak Hamas ataupun kaum Muslim di Gaza, tetapi mereka sebenarnya menyerang seluruh umat Islam. Mereka menyerang Islam dengan harapan mereka dapat melemahkannya dan akhirnya melenyapkan Islam dan umat Muhammad Sallallahu Alaihi wa Sallam.
Dan sudah tentunya mereka tidak akan sekali-kali berhenti di sini. Mereka inginkan Al Aqsa kesayangan kita, mereka mahukan Tebing Barat dan percayalah kepada ku bahawasanya mereka mendambakan seluruh wilayah Timur Tengah.
Namun, mereka tidak akan pernah berjaya. Mereka tidak akan pernah dapat menghilangkan cahaya Allah, dari bumi ini, InsyaAllah.
Keadaan kami pada saat ini amat dahsyat dan mengerikan, tetapi keimanan kami tetap utuh. Alhamdulillah, walaupun kami tiada bekalan air dan sekiranya ada pun setitis air, ia adalah tercemar dan membawa seribu satu wabak penyakit. Kami tiada wang untuk membeli air mineral dan seandainya kami menjumpai wang pun, mereka yang menjualnya mengatakan kepada kami, bekalan tiada dan amatlah merbahaya untuk mereka keluar mendapatkan bekalan baru. Kami juga tiada bahan api(gas) semenjak empat bulan lalu. Kami memasak sedikit makanan yang kami ada dengan api sebenar yang kami pelajari bagaimana untuk menyalakannya.
Kerabat lelaki kami telah kehilangan semua pekerjaan mereka. Pada masa ini,mereka hanya menghabiskan masa di rumah. .Suamiku menghabiskan masa seharian hanya untuk merayau-rayau dari satu tempat ke tempat yang lain semata-mata untuk mencari keperluan asas seperti seteguk air. Kebiasaannya beliau akan pulang dengan tangan kosong. Tiada sebarang sekolah mahupun bank-bank yang dapat kami keluarkan wang simpanan kami. Hanya terdapat beberapa hospital yang masih dibuka untuk merawat mereka yang tercedera.
Kami sedar bahawa kami sentiasa mempertaruhkan nyawa apabila kami keluar atau berada di luar rumah. Rejim Zionis mengenakan perintah berkurung dari jam 1pm hingga 4pm. Mereka mengatakan adalah selamat untuk kami keluar mendapatkan bekalan asas pada waktu-waktu tertentu, tetapi semua itu adalah satu pembohongan. . Bahkan mereka telah sering menggunakan peluang yang ada itu untuk menambah senarai Syuhada’ didalam koleksi mereka.
Kami memakan nasi dan roti secara berselang hari. Daging dan susu adalah satu kemewahan buat kami. Rejim Israel menggunakan kaedah perang kimia di kawasan sempadan. Mereka membunuh kami menggunakan peluru-peluru dan kereta perisai dan pesawat B52, tidak cukup dengan itu,bahkan mereka juga membunuh kami secara perlahan-lahan dengan membiarkan anak-anak kami mati kelaparan, mengakibatkan penyakit-penyakit yang tidak dapat diceritakan dengan menggunakan perang kimia mereka. Mereka bahkan hanya ketawa di saat melihat kami berterusan menderita dan tidak mampu menahan penyeksaan ini lagi.
Pada ketika semua ini dilakukan, kami diberitahu bahawa semua orang di seluruh dunia melakukan demonstrasi. MasyaAllah, mengenangkan anda semua pergi ke kedutaan-kedutaan dengan meninggalkan kediaman anda memberikan kami satu perasaan bahawa kami tidak bersendirian dalam perjuangan ini.
Akan tetapi, anda akan pulang semula ke rumah dan mengunci pintu pada waktu malam. Kami tidak mampu melakukan itu. Aku sendiri terpaksa meninggalkan rumahku yang berada di tingkat dua pada setiap malam untuk menumpang di rumah adikku di tingkat bawah. Seandainya kami diserang, adalah lebih mudah untuk kami lari menyelamatkan diri
Namun Umat bertanyakan dimanakah bala tentera kaum Muslim? Dimanakah Kemenangan? Dan dimanakah pemimpin sebenar kami yang akan menyelamatkan kami dari kematian ini? Dimanakah bala tentera Salahuddin Al Ayubbi? Usahlah berharap dan merayu kepada PBB, mereka memperkenalkan Israel pada tahun1949 sebagai sebuah Negara dan menjamin nasib kami seperti hari ini. Janganlah berpaling kepada Amerika atau British, apakah mereka tidak mencerobohi umat Islam di Iraq dan Afghanistan.
Serulah pasukan tentera di Mesir, Syria, Turkey dan Libya. Dimanakah mereka? Adakah mereka tegar melihat wanita-wanita meraung dan merintih meminta ikhsan pertolongan pada saat mereka mengebumikan anak-anak kecil mereka? Adakah jeritan dan tangisan adik-adik,kakak-kakak dan abang-abang kamu didengari oleh telinga-telinga yang pekak? Kami juga mempunyai hak untuk makan dan minum dalam suasana yang selamat dan sejahtera. Kami juga mempunyai hak untuk bergembira, ketawa dan hidup dengan dipenuhi impian seperti anda semua. Ataukah kami tidak berhak???
Ya, memang benar kami sudah keletihan. Apabila aku mendengar bunyi roket-roket dan bom serta melihat pesawat-pesawat yang berterbangan amat rapat mendekati rumahku, aku menjerit-jerit bersama anak lelaki kecilku dan di saat itu, suamiku hanya mampu terduduk kaku dan tidak berdaya untuk melakukan apa-apa.
Saudara-saudaraku, tentunya kamu mengetahui bagaimana perasaannya apabila kamu tidak berdaya untuk mempertahankan maruah dan kehidupan keluarga kamu. Ia membunuh sesuatu dari dalam hati suami ku. Kami sering tertanya-tanya, bilakah mereka(para pemimpin umat) akan menjual tanah kami ini dengan harga yang murah. Adakah dengan seribu atau dua ribu kematian. Kami sedang menunggu untuk melihatnya. Inilah yang telah terjadi pada kami.
Dengan semua ini, tiada siapa yang dapat menyelamatkan kami melainkan hanya Allah Subhanahu wa Taala. Janganlah kamu sekalian melupakan kami di sini kerana hanya kamu lah yang kami ada sekarang ini. Sumbangan dan sedekah kamu tidak sampai ke tangan kami dan apabila mereka membuka sempadan itu, hanya segelintir yang mendapatnya. Mereka yang mendapatnya(sumbangan) itu juga tidak mampu berbuat apa-apa dengannya kerana kami terpaksa mempertaruhkan nyawa hanya untuk pergi membeli makanan.
Mereka(Israel) akan membunuh sesiapa sahaja walaupun seorang anak kecil berumur lima tahun yang membawa makanan untuk keluarganya. Kami ingin hidup dengan usaha dan peluh saudara-saudara Islam kami, bukannya orang lain kerana kami semakin menghampiri kematian.
Teruskan lah usaha di jalan Allah ini dan berdoa serta bekerjalah untuk kemenangan yang semakin menghampiri dan seterusnya bakal menyelamatkan umat di segenap pelusuk, InsyaAllah.
Semoga Allah Subhanahu wa Taala mengukuhkan kita di atas DeenNya pada masa sukar dan senang. Ya Allah, kurniakanlah kami kemenangan dengan segera dan kembalikan lah Islam di bawah satu kekuasaan yang mana kami hidup di dalamnya. Ya Allah, kirimkanlah kami anak-anak Salahuddin, tentera Islam untuk menyelamatkan umat Muhammad Sallallahu Alaihi wa Sallam dari kekejaman yang kami sedang bergelumang hidup di dalamnya. Ya Allah, lindungilah anak-anak kami dan hapuskan lah zionis dari tanah kami. Ya Allah, saksikanlah pada hari ini, kami mengadukan tentang pengkhianatan pemimpin kami kepadaMu, dan kami berdoa agar Engkau Ya Allah, mengembalikan segera pemimpin sebenar kami, iaitu Khalifah. Amin.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Saudarimu Ummu Taqi
Last Updated on Friday, 23 January 2009 15:46
Written by Muslimah
Friday, 23 January 2009 13:56
Menemui saudara dan saudari seIslamku, aku ingin mengambil kesempatan ini untuk menyampaikan pesanan dari saudara-saudari seagamamu di Gaza. Dengarkanlah bagaimana keadaan kami di sini dan beritahukan kepada semua orang samada mereka yang kamu kenali mahupun tidak.
Pada tanggal 27hb Disember 2008, ketika kami di serang rejim Zionis, mereka bukan sahaja menyerang puak Hamas ataupun kaum Muslim di Gaza, tetapi mereka sebenarnya menyerang seluruh umat Islam. Mereka menyerang Islam dengan harapan mereka dapat melemahkannya dan akhirnya melenyapkan Islam dan umat Muhammad Sallallahu Alaihi wa Sallam.
Dan sudah tentunya mereka tidak akan sekali-kali berhenti di sini. Mereka inginkan Al Aqsa kesayangan kita, mereka mahukan Tebing Barat dan percayalah kepada ku bahawasanya mereka mendambakan seluruh wilayah Timur Tengah.
Namun, mereka tidak akan pernah berjaya. Mereka tidak akan pernah dapat menghilangkan cahaya Allah, dari bumi ini, InsyaAllah.
Keadaan kami pada saat ini amat dahsyat dan mengerikan, tetapi keimanan kami tetap utuh. Alhamdulillah, walaupun kami tiada bekalan air dan sekiranya ada pun setitis air, ia adalah tercemar dan membawa seribu satu wabak penyakit. Kami tiada wang untuk membeli air mineral dan seandainya kami menjumpai wang pun, mereka yang menjualnya mengatakan kepada kami, bekalan tiada dan amatlah merbahaya untuk mereka keluar mendapatkan bekalan baru. Kami juga tiada bahan api(gas) semenjak empat bulan lalu. Kami memasak sedikit makanan yang kami ada dengan api sebenar yang kami pelajari bagaimana untuk menyalakannya.
Kerabat lelaki kami telah kehilangan semua pekerjaan mereka. Pada masa ini,mereka hanya menghabiskan masa di rumah. .Suamiku menghabiskan masa seharian hanya untuk merayau-rayau dari satu tempat ke tempat yang lain semata-mata untuk mencari keperluan asas seperti seteguk air. Kebiasaannya beliau akan pulang dengan tangan kosong. Tiada sebarang sekolah mahupun bank-bank yang dapat kami keluarkan wang simpanan kami. Hanya terdapat beberapa hospital yang masih dibuka untuk merawat mereka yang tercedera.
Kami sedar bahawa kami sentiasa mempertaruhkan nyawa apabila kami keluar atau berada di luar rumah. Rejim Zionis mengenakan perintah berkurung dari jam 1pm hingga 4pm. Mereka mengatakan adalah selamat untuk kami keluar mendapatkan bekalan asas pada waktu-waktu tertentu, tetapi semua itu adalah satu pembohongan. . Bahkan mereka telah sering menggunakan peluang yang ada itu untuk menambah senarai Syuhada’ didalam koleksi mereka.
Kami memakan nasi dan roti secara berselang hari. Daging dan susu adalah satu kemewahan buat kami. Rejim Israel menggunakan kaedah perang kimia di kawasan sempadan. Mereka membunuh kami menggunakan peluru-peluru dan kereta perisai dan pesawat B52, tidak cukup dengan itu,bahkan mereka juga membunuh kami secara perlahan-lahan dengan membiarkan anak-anak kami mati kelaparan, mengakibatkan penyakit-penyakit yang tidak dapat diceritakan dengan menggunakan perang kimia mereka. Mereka bahkan hanya ketawa di saat melihat kami berterusan menderita dan tidak mampu menahan penyeksaan ini lagi.
Pada ketika semua ini dilakukan, kami diberitahu bahawa semua orang di seluruh dunia melakukan demonstrasi. MasyaAllah, mengenangkan anda semua pergi ke kedutaan-kedutaan dengan meninggalkan kediaman anda memberikan kami satu perasaan bahawa kami tidak bersendirian dalam perjuangan ini.
Akan tetapi, anda akan pulang semula ke rumah dan mengunci pintu pada waktu malam. Kami tidak mampu melakukan itu. Aku sendiri terpaksa meninggalkan rumahku yang berada di tingkat dua pada setiap malam untuk menumpang di rumah adikku di tingkat bawah. Seandainya kami diserang, adalah lebih mudah untuk kami lari menyelamatkan diri
Namun Umat bertanyakan dimanakah bala tentera kaum Muslim? Dimanakah Kemenangan? Dan dimanakah pemimpin sebenar kami yang akan menyelamatkan kami dari kematian ini? Dimanakah bala tentera Salahuddin Al Ayubbi? Usahlah berharap dan merayu kepada PBB, mereka memperkenalkan Israel pada tahun1949 sebagai sebuah Negara dan menjamin nasib kami seperti hari ini. Janganlah berpaling kepada Amerika atau British, apakah mereka tidak mencerobohi umat Islam di Iraq dan Afghanistan.
Serulah pasukan tentera di Mesir, Syria, Turkey dan Libya. Dimanakah mereka? Adakah mereka tegar melihat wanita-wanita meraung dan merintih meminta ikhsan pertolongan pada saat mereka mengebumikan anak-anak kecil mereka? Adakah jeritan dan tangisan adik-adik,kakak-kakak dan abang-abang kamu didengari oleh telinga-telinga yang pekak? Kami juga mempunyai hak untuk makan dan minum dalam suasana yang selamat dan sejahtera. Kami juga mempunyai hak untuk bergembira, ketawa dan hidup dengan dipenuhi impian seperti anda semua. Ataukah kami tidak berhak???
Ya, memang benar kami sudah keletihan. Apabila aku mendengar bunyi roket-roket dan bom serta melihat pesawat-pesawat yang berterbangan amat rapat mendekati rumahku, aku menjerit-jerit bersama anak lelaki kecilku dan di saat itu, suamiku hanya mampu terduduk kaku dan tidak berdaya untuk melakukan apa-apa.
Saudara-saudaraku, tentunya kamu mengetahui bagaimana perasaannya apabila kamu tidak berdaya untuk mempertahankan maruah dan kehidupan keluarga kamu. Ia membunuh sesuatu dari dalam hati suami ku. Kami sering tertanya-tanya, bilakah mereka(para pemimpin umat) akan menjual tanah kami ini dengan harga yang murah. Adakah dengan seribu atau dua ribu kematian. Kami sedang menunggu untuk melihatnya. Inilah yang telah terjadi pada kami.
Dengan semua ini, tiada siapa yang dapat menyelamatkan kami melainkan hanya Allah Subhanahu wa Taala. Janganlah kamu sekalian melupakan kami di sini kerana hanya kamu lah yang kami ada sekarang ini. Sumbangan dan sedekah kamu tidak sampai ke tangan kami dan apabila mereka membuka sempadan itu, hanya segelintir yang mendapatnya. Mereka yang mendapatnya(sumbangan) itu juga tidak mampu berbuat apa-apa dengannya kerana kami terpaksa mempertaruhkan nyawa hanya untuk pergi membeli makanan.
Mereka(Israel) akan membunuh sesiapa sahaja walaupun seorang anak kecil berumur lima tahun yang membawa makanan untuk keluarganya. Kami ingin hidup dengan usaha dan peluh saudara-saudara Islam kami, bukannya orang lain kerana kami semakin menghampiri kematian.
Teruskan lah usaha di jalan Allah ini dan berdoa serta bekerjalah untuk kemenangan yang semakin menghampiri dan seterusnya bakal menyelamatkan umat di segenap pelusuk, InsyaAllah.
Semoga Allah Subhanahu wa Taala mengukuhkan kita di atas DeenNya pada masa sukar dan senang. Ya Allah, kurniakanlah kami kemenangan dengan segera dan kembalikan lah Islam di bawah satu kekuasaan yang mana kami hidup di dalamnya. Ya Allah, kirimkanlah kami anak-anak Salahuddin, tentera Islam untuk menyelamatkan umat Muhammad Sallallahu Alaihi wa Sallam dari kekejaman yang kami sedang bergelumang hidup di dalamnya. Ya Allah, lindungilah anak-anak kami dan hapuskan lah zionis dari tanah kami. Ya Allah, saksikanlah pada hari ini, kami mengadukan tentang pengkhianatan pemimpin kami kepadaMu, dan kami berdoa agar Engkau Ya Allah, mengembalikan segera pemimpin sebenar kami, iaitu Khalifah. Amin.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Saudarimu Ummu Taqi
Last Updated on Friday, 23 January 2009 15:46
Friday, January 16, 2009
RESOLUSI 1860: BUKTI NYATA PENGECUTNYA PARA PENGUASA NEGERI ISLAM
بسم الله الرحمن الرحيم
RESOLUSI 1860: BUKTI NYATA PENGECUTNYA PARA PENGUASA NEGERI ISLAM
Mereka Tidak Hanya Menghinakan Gaza dengan Tentara Mereka, Justru Gaza Mereka Serahkan kepada Yahudi Melalui Resolusi PBB.
Pagi tadi PBB telah mengeluarkan Resolusi 1860 berkaitan bantaian ganas terhadap jalur Gaza. Resolusi ini mengandungi perkataan penipuan, kejelikan politik sebagaimana pernah digunakan dalam Resolusi 242 sebelum ini selepas serangan pada tahun 1967 yang dinyatakan, “Harus menarik diri dari wilayah…,” tanpa menyatakan seharusnya, “Menarik diri dari seluruh wilayah.” Ini menganugerahkan rejim Yahudi terus kekal di wilayah yang didudukinya.
Berkaitan Resolusi 1860, ia tidak menyatakan menarik dari wilayah Gaza malah menghad kepada gencatan senjata “membawa” kepada penarikan!! Bagaimana dan bila itu boleh berlaku. Bagaimana, dengan Resolusi yang sengaja masih diliputi kekaburan untuk menghentikan serangan Yahudi, karena Yahudi tetap tidak akan menghentikan serangan meskipun sudah ada resolusi yang jauh lebih keras dan tegas sebelum ini?!
Sesungguhnya Resolusi PBB tidak pernah boleh menyelesaikan masalah, bahkan sudah sangat banyak resolusi-resolusi seperti ini yang tidak dilaksanakan oleh negara Yahudi bahkan masuk dalam bakul sampah. Malah AS dan sekutunya sengaja menghalang PBB dari mengeluarkan Resolusi yang mendesak supaya ada gencatan senjata, sebenarnya menginginkan Yahudi meneruskan pertumpahan darah di Gaza sehingga Yahudi mencapai objektifnya.
Mengikuti dan mengekori AS, para penguasa negeri Muslim memenuhi kehendak AS, sama ada memang mengikut telunjuk AS ataupun takut, sehingga mereka pun tidak sekata, berselisih satu sama lain, dan tidak ada kata sepakat…
Apabila Regim Yahudi menghadapi tentangan yang hebat dan tidak nampak akan mencapai ojektifnya dan operasi tenteranya itu tidak mampu mewujudkan apa yang ditargetkan—sehingga berlanjutan, kepada pemilihan umum sudah di depan mata, mereka mula memerlukan suatu environmen “kemenangan”, baik melalui peperangan maupun perdamaian. Ketika itulah AS sangat aktif sekali merealisasikan tujuan mereka melalui PBB sehingga Condolezza Rice menjadi magnet yang luar biasa dalam berbagai pertemuan dan mesyuarat. Dia menggerakkan para penguasa supaya mereka bergegas pergi untuk menemui PBB; siang-malam mereka bekerja keras dengan penuh semangat. Mereka itulah yang dilihat membantu Gaza dengan tentera-tentera mereka dengan pandangan bak orang pingsan dari kematian. Padahal sekiranya saat itu ada satu atau beberapa front pertempuran dibuka di sana oleh para penguasa itu, pasti regim Yahudi itu akan goncang dan berkemungkinan lenyap tak berbekas…
Sebenarnya para penguasa (goodfather) inilah sponsor Resolusi ini bagi mewujudkan kepentingan Yahudi yang tidak dapat diwujudkan melalui serangan biadab mereka. Resolusi itu akan tetap membuatkan tentera Israel kekal di Gaza dan blokade terhadap Jalur Gaza dengan apa cara kekuatan dan persenjataan ini tidak akan mengubah apa-apa walaupun, dikosmetik dengan pembukaan blokade makanan.
Bagi menjayakan resolusi ini, AS tidak mengundi seolah-olah AS tidak berada dibelakang mereka supaya para penguasa diberi suatu perasaan bahawa kejayaan mereka terhadap resolusi ini tidak dengan bantuan AS tetapi sebenarnya mereka tertipu kerana sekiranya AS tidak dibelakang resolusi mana mungkin mereka dapat meluluskan satu resolusi tersebut.
Wahai Seluruh Kaum Muslim:
Sungguh tepat sekali apa yang disabdakan oleh Nabi saw.:
«إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ»
Jika Anda sudah tidak mempunyai rasa malu, lakukanlah apa saja yang kalian inginkan.” (H.r. Bukhari, Ibn Majah dan Ahmad).
Para penguasa itu melihat darah-darah orang tak bersalah di Gaza yang ditumpahkan, mereka tidak menggerakkan tenteranya untuk membantu Gaza; tidak juga melepaskan satu roket pun dari peluncurnya. Bahkan, lebih dari itu, mereka menghalang para sukarelawan untuk membantu Gaza…Ironisnya, mereka justru bergegas dan berlomba-lomba untuk mengeluarkan sebuah resolusi yang menghalangi Gaza dari mendapatkan bantuan senjata dan apa cara kekuatanyang boleh membantunya…Semoga mereka dilaknat oleh Allah.
Siapa saja yang melihat Palestina yang diduduki oleh regim Yahudi ini dikelilingi oleh para penguasa tanah Muslim dan keberadaan regim Yahudi di Palestina adalah keran kewujudan para penguasa tersebut. Bukan setakat Yahudi saja melindungi diri mereka sendiri bahkan para penguasa tersebut juga berbuat bagi pihak mereka. AS dan negara-negara Barat yang lain, yang mendukung entiti ini, tidak akan mampu melindungi regim ini kalau ada satu saja dari para penguasa itu yang waras.
Wahai Kaum Muslim:
Kami telah mengingatkan berkali-kali. Kami mengulanginya lagi dan kami menambahkan, bahwa siapa saja yang ingin menghancurkan entiti Yahudi dan mengembalikan Palestina secara utuh ke pangkuan negeri Islam, maka dia harus berjuang untuk mewujudkan seorang penguasa yang ikhlas, negara yang benar, iaitu Khilafah Râsyidah. Sebab, seorang imam (khalifah/pemimpin) itu bagaikan perisai; orang-orang akan berperang di belakangnya, dan kepadanya mereka berlindung, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw. Pada saat itulah, negara Yahudi itu tidak akan pernah lagi ada, bahkan negara-negara kafir penjajah yang jauh lebih kuat akan dihinadinakan.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya (Q.s. Qaf [50]: 37).
13 Muharram 1430 H
9 Januari 2009 M
Terjemahan dari:
"http://www.khilafah.com/index.php/analysis/middle-east/4950-resolution-1860-on-gaza-is-a-disgraceful-slap-in-the-face-of-the-rulers-in-the-islamic-lands"
بسم الله الرحمن الرحيم
RESOLUSI 1860: BUKTI NYATA PENGECUTNYA PARA PENGUASA NEGERI ISLAM
Mereka Tidak Hanya Menghinakan Gaza dengan Tentara Mereka, Justru Gaza Mereka Serahkan kepada Yahudi Melalui Resolusi PBB.
Pagi tadi PBB telah mengeluarkan Resolusi 1860 berkaitan bantaian ganas terhadap jalur Gaza. Resolusi ini mengandungi perkataan penipuan, kejelikan politik sebagaimana pernah digunakan dalam Resolusi 242 sebelum ini selepas serangan pada tahun 1967 yang dinyatakan, “Harus menarik diri dari wilayah…,” tanpa menyatakan seharusnya, “Menarik diri dari seluruh wilayah.” Ini menganugerahkan rejim Yahudi terus kekal di wilayah yang didudukinya.
Berkaitan Resolusi 1860, ia tidak menyatakan menarik dari wilayah Gaza malah menghad kepada gencatan senjata “membawa” kepada penarikan!! Bagaimana dan bila itu boleh berlaku. Bagaimana, dengan Resolusi yang sengaja masih diliputi kekaburan untuk menghentikan serangan Yahudi, karena Yahudi tetap tidak akan menghentikan serangan meskipun sudah ada resolusi yang jauh lebih keras dan tegas sebelum ini?!
Sesungguhnya Resolusi PBB tidak pernah boleh menyelesaikan masalah, bahkan sudah sangat banyak resolusi-resolusi seperti ini yang tidak dilaksanakan oleh negara Yahudi bahkan masuk dalam bakul sampah. Malah AS dan sekutunya sengaja menghalang PBB dari mengeluarkan Resolusi yang mendesak supaya ada gencatan senjata, sebenarnya menginginkan Yahudi meneruskan pertumpahan darah di Gaza sehingga Yahudi mencapai objektifnya.
Mengikuti dan mengekori AS, para penguasa negeri Muslim memenuhi kehendak AS, sama ada memang mengikut telunjuk AS ataupun takut, sehingga mereka pun tidak sekata, berselisih satu sama lain, dan tidak ada kata sepakat…
Apabila Regim Yahudi menghadapi tentangan yang hebat dan tidak nampak akan mencapai ojektifnya dan operasi tenteranya itu tidak mampu mewujudkan apa yang ditargetkan—sehingga berlanjutan, kepada pemilihan umum sudah di depan mata, mereka mula memerlukan suatu environmen “kemenangan”, baik melalui peperangan maupun perdamaian. Ketika itulah AS sangat aktif sekali merealisasikan tujuan mereka melalui PBB sehingga Condolezza Rice menjadi magnet yang luar biasa dalam berbagai pertemuan dan mesyuarat. Dia menggerakkan para penguasa supaya mereka bergegas pergi untuk menemui PBB; siang-malam mereka bekerja keras dengan penuh semangat. Mereka itulah yang dilihat membantu Gaza dengan tentera-tentera mereka dengan pandangan bak orang pingsan dari kematian. Padahal sekiranya saat itu ada satu atau beberapa front pertempuran dibuka di sana oleh para penguasa itu, pasti regim Yahudi itu akan goncang dan berkemungkinan lenyap tak berbekas…
Sebenarnya para penguasa (goodfather) inilah sponsor Resolusi ini bagi mewujudkan kepentingan Yahudi yang tidak dapat diwujudkan melalui serangan biadab mereka. Resolusi itu akan tetap membuatkan tentera Israel kekal di Gaza dan blokade terhadap Jalur Gaza dengan apa cara kekuatan dan persenjataan ini tidak akan mengubah apa-apa walaupun, dikosmetik dengan pembukaan blokade makanan.
Bagi menjayakan resolusi ini, AS tidak mengundi seolah-olah AS tidak berada dibelakang mereka supaya para penguasa diberi suatu perasaan bahawa kejayaan mereka terhadap resolusi ini tidak dengan bantuan AS tetapi sebenarnya mereka tertipu kerana sekiranya AS tidak dibelakang resolusi mana mungkin mereka dapat meluluskan satu resolusi tersebut.
Wahai Seluruh Kaum Muslim:
Sungguh tepat sekali apa yang disabdakan oleh Nabi saw.:
«إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ»
Jika Anda sudah tidak mempunyai rasa malu, lakukanlah apa saja yang kalian inginkan.” (H.r. Bukhari, Ibn Majah dan Ahmad).
Para penguasa itu melihat darah-darah orang tak bersalah di Gaza yang ditumpahkan, mereka tidak menggerakkan tenteranya untuk membantu Gaza; tidak juga melepaskan satu roket pun dari peluncurnya. Bahkan, lebih dari itu, mereka menghalang para sukarelawan untuk membantu Gaza…Ironisnya, mereka justru bergegas dan berlomba-lomba untuk mengeluarkan sebuah resolusi yang menghalangi Gaza dari mendapatkan bantuan senjata dan apa cara kekuatanyang boleh membantunya…Semoga mereka dilaknat oleh Allah.
Siapa saja yang melihat Palestina yang diduduki oleh regim Yahudi ini dikelilingi oleh para penguasa tanah Muslim dan keberadaan regim Yahudi di Palestina adalah keran kewujudan para penguasa tersebut. Bukan setakat Yahudi saja melindungi diri mereka sendiri bahkan para penguasa tersebut juga berbuat bagi pihak mereka. AS dan negara-negara Barat yang lain, yang mendukung entiti ini, tidak akan mampu melindungi regim ini kalau ada satu saja dari para penguasa itu yang waras.
Wahai Kaum Muslim:
Kami telah mengingatkan berkali-kali. Kami mengulanginya lagi dan kami menambahkan, bahwa siapa saja yang ingin menghancurkan entiti Yahudi dan mengembalikan Palestina secara utuh ke pangkuan negeri Islam, maka dia harus berjuang untuk mewujudkan seorang penguasa yang ikhlas, negara yang benar, iaitu Khilafah Râsyidah. Sebab, seorang imam (khalifah/pemimpin) itu bagaikan perisai; orang-orang akan berperang di belakangnya, dan kepadanya mereka berlindung, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw. Pada saat itulah, negara Yahudi itu tidak akan pernah lagi ada, bahkan negara-negara kafir penjajah yang jauh lebih kuat akan dihinadinakan.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya (Q.s. Qaf [50]: 37).
13 Muharram 1430 H
9 Januari 2009 M
Terjemahan dari:
"http://www.khilafah.com/index.php/analysis/middle-east/4950-resolution-1860-on-gaza-is-a-disgraceful-slap-in-the-face-of-the-rulers-in-the-islamic-lands"
Subscribe to:
Posts (Atom)
Blog Archive
-
►
2008
(15)
-
►
October
(11)
- Ekonomi Kapitalis Dalam Kehancuran
- Ekonomi Kapitalis Dalam Kehancuran, Setelah Kerunt...
- Ekonomi Kapitalis Dalam Kehancuran, Setelah Kerunt...
- Ekonomi Kapitalis Dalam Kehancuran, Setelah Kerunt...
- hadharah islamiyyah
- Islam Menolak Idea Kebebasan Beragama ...
- HADHARAH WA MADANIAH
- HADHARAH DAN MADANIYAH Oleh : Imam Taqiyuddin an...
- ZAKAT
- ZAKAT This Ramadan Muslims all over the world wil...
- Hukum menghina Nabi
-
►
October
(11)
