HADHARAH ISLAMIYYAH Headline Animator

Monday, February 7, 2011

Egypt Crisis: Could Pakistan be Next?

NEWS WATCH · FEBRUARY 4, 2011 · 1 COMMENT
Situated on the edge of the Middle East, Pakistan faces similar problems to Tunisia and Egypt: inflation, lack of employment opportunities and widespread corruption.

The corrupt kleptocracy in Egypt is a major cause of discontent, particularly among those excluded from patronage networks. Poverty has endured during the past three decades of President Mubarak’s rule, while the ruling elite have grown rich. 40% of Egyptians live on less than US $ 2 a day, while some estimates suggest that the President’s family may have amassed between $ 40bn and $ 70bn.

Rising food prices

Inflation, and in particular rising food prices, is another commonality. Pakistan faces particular problems because of crop losses due to last year’s floods. A 40% increase in the cost of maize has resulted in a similar increase in the price of eggs. A longer-term failure to increase production in line with demand has led to significant rises in other food costs, such as edible oils. Egypt too has faced significant, and in some cases overnight, increases in the costs of some foodstuffs.

Egypt and Pakistan face similar unemployment concerns. In Egypt 700,000 graduates are chasing 200,000 positions. In the years following 9/11, when Pakistan’s economy boomed, its failure to increase employment was stark. In some ways, Pakistan is worse off than Egypt. Levels of infrastructure are poorer and Pakistani businesses are faced with frequent gas and electricity cuts. The textile industry has suffered with hundreds of thousands of people losing their jobs. Pakistan’s demography lags that of Egypt; 36% of Pakistanis are under 15, and in the coming decade millions will be seeking employment, a large percentage, on current trends, in vain.

Political dynamics in Pakistan

But while there are real similarities between Pakistan and Egypt, there are major differences that mitigate against a replication of events in Egypt and Tunisia. Demonstrations against the Pakistani government are entirely plausible. But if they occurred, the dynamics would be different. The protestors in Egypt are expressing revulsion with a de facto one-party state. Pakistan does have political parties and in 2008 held a free and fair election. Despite the controversy that already surrounded President Zardari, he received a comfortable majority of votes and left his two main competitors lagging behind.

Secondly, Pakistan is significantly poorer and less educated than Egypt. As many as 60% of Pakistanis live on less than $ 2 per day. While unemployed graduates may well be protesting in Egypt, this group is a much smaller proportion of the Pakistani population. And it is hard to envisage that such events in Pakistan would be driven by social media, rather than by the mosque.

The role of radical Islam

Third, and most importantly, it is difficult to envisage an alliance ranging from liberals to Islamists coming together in Pakistan. This was most vividly illustrated by the recent murder of the governor of Punjab, Salman Taseer. Taseer was killed by his bodyguard after speaking out against Pakistan’s blasphemy law, following the sentence of a Christian woman to death. Under the law, members of minority groups are susceptible to blasphemy accusations when in dispute with members of the Muslim majority. The actions of Taseer’s killer were defended by politicians, religious figures and lawyers, who even honoured him with garlands during his first appearance in court.

Pakistan is not immune from events elsewhere in the Islamic world. But were Pakistanis to take to the streets in protest at the government, the opposition would undoubtedly be expressed through radical Islam. If the West has struggled to create a policy response to events in Egypt, decision-makers must be crossing their fingers that ‘contagion’ does not spread to Pakistan.

Chatham House

Source: http://www.hizb.org.uk

0 comments:

THE METHOD TO ESTABLISH KHILAFAH

video

Blog Archive

archives

Bangsa ini Harus Segera Bertobat

Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Pembaca yang budiman, negeri ini seolah menjadi negeri segudang bencana; baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Bencana alam ada yang bersifat alamiah karena faktor alam (seperti gempa, tsunami, dll), tetapi juga ada yang karena faktor manusia (seperti banjir, kerusakan lingkungan, pencemaran karena limbah industri, dll). Adapun bencana kemanusiaan seperti kemiskinan, kelaparan serta terjadinya banyak kasus kriminal (seperti korupsi, suap-menyuap, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, maraknya aborsi, penyalahgunaan narkoba, dll) adalah murni lebih disebabkan karena ulah manusia. Itu belum termasuk kezaliman para penguasa yang dengan semena-mena menerapkan berbagai UU yang justru menyengsarakan rakyat seperti UU Migas, UU SDA, UU Listrik, UU Penanaman Modal, UU BHP, dll. UU tersebut pada kenyataannya lebih untuk memenuhi nafsu segelintir para pemilik modal ketimbang berpihak pada kepentingan rakyat.

Pertanyaannya: Mengapa semua ini terjadi? Bagaimana pula seharusnya bangsa ini bersikap? Apa yang mesti dilakukan? Haruskah kita menyikapi semua ini dengan sikap pasrah dan berdiam diri karena menganggap semua itu sebagai ’takdir’?

Tentu tidak demikian. Pasalnya, harus disadari, bahwa berbagai bencana dan musibah yang selama ini terjadi lebih banyak merupakan akibat kemungkaran dan kemaksiatan yang telah merajalela di negeri ini. Semua itu tidak lain sebagai akibat bangsa ini telah lama mencampakkan syariah Allah dan malah menerapkankan hukum-hukum kufur di negeri ini.

Karena itu, momentum akhir tahun ini tampaknya bisa digunakan oleh seluruh komponen bangsa ini untuk melakukan muhâsabah, koreksi diri, sembari dengan penuh kesadaran dan kesungguhan melakukan upaya untuk mengatasi berbagai persoalan yang melanda negeri ini. Tampaknya bangsa ini harus segera bertobat dengan segera menerapkan hukum-hukum Allah SWT secara total dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Maka dari itu, perjuangan untuk menegakan syariah Islam di negeri ini tidak boleh berhenti, bahkan harus terus ditingkatkan dan dioptimalkan. Sebab, sebagai Muslim kita yakin, bahwa hanya syariah Islamlah—dalam wadah Khilafah—yang bisa memberikan kemaslahatan bagi negeri ini, bahkan bagi seluruh alam raya ini.

Itulah di antara perkara penting yang dipaparkan dalam tema utama al-wa‘ie kali ini, selain sejumlah tema penting lainnya. Selamat membaca!

Wassalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Add This! Blinklist BlueDot Connotea del.icio.us Digg Diigo Facebook FeedMeLinks Google Magnolia Ask.com Yahoo! MyWeb Netvouz Newsvine reddit Simpy SlashDot Spurl StumbleUpon Technorati
Cetak halaman ini Cetak halaman ini      

-->
EDITORIAL
10 Jan 2010

Ketika berbicara di televisi BBC, Perdana Menteri Inggris Gordon Brown menyerukan intervensi lebih besar dari Barat di Yaman dan menyerang tuntutan bagi kekhalifahan dunia di dunia Muslim sebagai sebuah “ideologi pembunuh” dan suatu “penyimpangan dari islam “.
Taji Mustafa, Perwakilan Media Hizbut Tahrir Inggris berkata: “Gordon Brown, seperti halnya Tony Blair yang memerintah sebelumnya, berbohong [...]

Index Editorial
Leaflet
No Image
09 Jan 2010
بِسْـــمِ اللهِ الرَّحْمٰـــنِ الرَّحِيـــم Sia-sia Saja Menggantungkan Harapan Kepada Rencana-rencana Pemerintahan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP)! Pemerintahan Partai Keadilan dan Pembangunan...
Index Leaflet
KALENDER
January 2010
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
  • 1/24/2010: Halqah Islam dan Peradaban edisi 16
POLLING

Islam hanya mengakui pluralitas, bukan pluralisme. Pandangan Anda?

View Results

Loading ... Loading ...
AL-ISLAM
Al-Islam

ACFTA-PASAR BEBAS 2010: “BUNUH DIRI EKONOMI INDONESIA”

Mulai 1 Januari 2010, Indonesia harus membuka pasar dalam negeri secara luas kepada negara-negara ASEAN dan Cina. Sebaliknya, Indonesia dipandang akan mendapatkan kesempatan lebih luas untuk memasuki pasar dalam negeri negara-negara tersebut. Pembukaan pasar ini merupakan perwujudan dari perjanjian perdagangan bebas antara enam negara anggota ASEAN (Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina dan Brunei Darussalam) dengan Cina, [...]

Index Al Islam

EBOOK DOWNLOAD
Ebook Download

Download buku-buku yang dikeluarkan Hizbut Tahrir, dalam bahasa Indonesia, Arab dan Inggris.

Download disini

RSS NEWSLETTER
Powered By Blogger

Followers